Friday, February 16, 2007

SESOSOK TUBUH NAN MULIA

Begitu indahnya sifat fizikal Baginda, sehinggakan seorang ulama Yahudi yang pada pertama kalinya bersua muka dengan Baginda lantas melafazkan keislaman dan mengaku akan kebenaran apa yang disampaikan oleh Baginda.

Di antara kata-kata apresiasi para sahabat ialah:

- Aku belum pernah melihat lelaki yang sekacak Rasulullah.

- Aku melihat cahaya dari lidahnya..

- Seandainya kamu melihat Baginda, seolah kamu melihat matahari terbit.

- Rasulullah jauh lebih cantik dari sinaran bulan.


- Rasulullah umpama matahari yang bersinar.


- Aku belum pernah melihat lelaki setampan Rasulullah.

- Apabila Rasulullah berasa gembira, wajahnya bercahaya seperti bulan purnama.

- Kali pertama memandangnya sudah pasti akan terpesona.


- Wajahnya tidak bulat tetapi lebih cenderung kepada bulat.


- Wajahnya seperti bulan purnama.


- Dahi baginda luas, raut kening tebal, terpisah ditengahnya.


- Urat darah kelihatan di antara dua kening dan nampak semakin jelas semasa
marah.

- Mata baginda hitam,dengan bulu mata yang panjang.

- Garis-garis merah di bahagian putih mata, luas kelopaknya, kebiruan asli
di bahagian sudut.

- Hidungnya agak mancung, bercahaya penuh misteri, kelihatan luas sekali
pertama kali melihatnya.

- Mulut baginda sederhana luas dan cantik.

- Giginya kecil dan bercahaya, indah tersusun, renggang di bahagian depan.


- Apabila berkata-kata, cahaya kelihatan memancar dari giginya.


- Janggutnya penuh dan tebal menawan.


- Lehernya kecil dan panjang, terbentuk dengan cantik seperti arca. Warna
lehernya putih seperti perak sangat indah.

- Kepalanya besar tapi terlalu elok bentuknya.


- Rambutnya sedikit ikal.


- Rambutnya tebal kadang-kadang menyentuh pangkal telinga dan kadang-kadang mencecah
bahu tapi disisir rapi.

- Rambutnya terbelah di tengah.


- Di tubuhnya tidak banyak rambut kecuali satu garisan rambut menganjur
dari dada ke pusat.

- Dadanya bidang dan selaras dengan perut. Luas bidang antara kedua bahunya lebih daripada biasa.

- Seimbang antara kedua bahunya.

- Pergelangan tangannya lebar, lebar tapak tangannya, jarinya juga besar
dan tersusun dengan cantik.

- Tapak tangannya bagaikan sutera yang lembut.

- Perut betisnya tidak lembut tetapi cantik. Kakinya berisi tapak kakinya
terlalu licin sehingga tidak melekat air.

- Terlalu sedikit daging di bahagian tumit kakinya.


- Warna kulitnya tidak putih seperti kapur atau coklat tapi campuran coklat dan
putih. - Warna putihnya lebih banyak.

- Warna kulit baginda putih kemerah-merahan.


- Warna kulitnya putih tapi sihat.


- Kulitnya putih lagi bercahaya.


- Binaan badannya sempurna, tulang-temulangnya besar dan kukuh.
- Badannya tidak gemuk.

- Badannya tidak tinggi dan tidak pula rendah, kecil tapi berukuran
sederhana lagi kacak.

- Perutnya tidak buncit.


- Badannya cenderung kepada tinggi,semasa berada di kalangan org ramai
baginda kelihatan lebih tinggi daripada mereka.


Demikianlah sesosok tubuh nan mulia milik Nabi Muhammad s.a.w ~ manusia agung yang ideal dan sebaik-baik contoh sepanjang zaman. Semulia-mulia insan di dunia...

Pernahkah kita terfikir betapa saat akhir hayat Rasulullah mengingatkan kita semua betapa mendalamnya cinta baginda terhadap umatnya...

Wahai ALLAH, izinkan hambamu ini menukil kembali kenangan itu....

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya.

Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,

"Maafkanlah, ayahku sedang demam,"
kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah,
"Siapakah itu wahai anakku?".

"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,"tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah.

Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.


"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?"
Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.

"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti rohmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril.

Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.


"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?"
Tanya Jibril lagi.

"Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"

"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas.
Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

"Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.


"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.
"Ya Allah, dahsyat gerangan maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya (lantas terdengar Rasulullah berkata:)
"Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum" (peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu)

Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

"Ummatii, ummatii, ummatiii!" - "Umatku, umatku, umatku"

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Semoga cinta kita pada Rasulullah adalah cinta yang abadi.

{nantikan album terbaru saya :"NABI PUN TERPESONA...",
tulisan di atas satu titipan rasa rindu buat RASULULLAH S.A.W saat mengenang BAGINDA}

No comments: